Raniyuliandani's Blog











{Mei 26, 2009}   “Pengaruh Televisi Terhadap Perkembangan Anak”

ABSTRAK

Televisi dapat menimbulkan dampak-dampak bagi pemirsanya, khususnya pada anak-anak. Rasa ingin tahu terhadap informasi menyebabkan pengaruh media terhadap anak semakin besar dengan adanya berbagai macam teknologi yang canggih. Dampak negatif dari acara televisi lebih besar daripada dampak positifnya. Dari televisi, anak-anak dapat menyaksikan semua tayangan pada program apapun sampai tayangan  yang seharusnya belum layak atau pantas mereka tonton. Banyak acara-acara distasiun televisi yang kurang berkualitas yang bisa menjerumuskan anak pada hal-hal yang negatif. Seperti acara kekerasan, seks, tindak kriminal kejahatan dan masih banyak acara yang tidak selayaknya menjadi perhatian anak. Acara-acara yang menyajikan sarana edukatif sangat sedikit sekali. Dalam hal ini, peranan orang tua sangat penting dalam mengatasi dampak tersebut. Dalam perkembangannya, lingkungan sangat berpengaruh dalam psikologs anak, sehingga anak tidak bisa terlepas dari bimbingan orang tuanya. Orang tua berperan dalam mengawasi, mengontrol dan memperhatikan segala aktivitas anaknya, terutama dalam menonton televisi. Mana tanyangan yang pantas dan layak untuk ditonton oleh anak.

Key words: televisi, dampak televisi, anak-anak, peran orang tua

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada zaman sekarang ini, Televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mengakses informasi dan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Salah satu media massa yang paling banyak memberikan infomasi adalah Televisi.

Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya, dan membuat pemirsanya ‘ketagihan’ untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktiviatas kesehariannya. Anak-anak bisa menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk menonton televisi kesayangannya. Acara “nonton tv” sudah menjadi agenda wajib bagi mereka.

Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetrom dan film-film yang berbau kekerasan, televisi mampu membius pemirsanya (anak-anak, remaja dan orang tua)  untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian mungkin dan dibubuhi dengan assesoris-assesoris yang menarik, sehingga membuat pemirsanya terkagum-kagum dengan acara yang disajikan. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak lebih suka berlama-lama di depan televisi dari pada belajar, bahkan hampir-hampir lupa akan waktu makannya. Hal ini merupakan problematika yang terjadi dilingkungan kita sekarang ini dan perlu perhatian khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.

Tidak dipungkiri, dengan adanya media massa televisi ini banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil. Dimana kita akan dengan cepat memperoleh informasi-informasi terbaru yang terjadi dimana pun dan belahan dunia manapun. Sehingga kita memperoleh wawasan yang luas dan tidak akan ketinggalan berita-berita terhangat masa kini, kita bisa mengetahui apa saja masalah-masalah yang sedang terjadi. Sebagai manusia global harus mampu mengkritisi dari berbagai aspek manapun baik sosial, ekonomi, politik, hukum, dan budaya.

Jika kita kaji lebih jauh, sebenarnya media massa televisi mempunyai fungsi utama yang harus diperhatikan yaitu fungsi informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman.  Namun jika dlihat kenyataannya sekarang ini, acara-acara televisi lebih kepada fungsi informatif dan rekreatif saja. Sedangkan fungsi edukatif merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan atau diinformasikan sedikit sekali. Hal ini bisa kita lihat dari susunan acara-acara televisi, kebanyakan hanya acara-acara sinetron yang marak terdapat diberbagai channel televisi. Selain itu acara-acara infotainment yang membuat penontonnya terobsesi dengan gosip-gosip para artis. Sedangkan acara-acara yang mengarah kepada edukatif atau pendidikan kecil sekali frekuensinya.

Sebagai media audio visual, TV mampu merebut beberapa saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu membuat orang pada umumnya mengingat dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Dengan demikian terutama bagi anak-anak pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tersebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Apabila yang ia tonton merupakan acara yang lebih kepada edukatif, maka akan bisa memberikan dampak positif tetapi jika yang ia tonton lebih kepada hal yang tidak memiliki arti bahkan yang mengandung unsur-unsur negatif atau penyimpangan bahkan sampai kepada kekerasan, maka hal ini akan memberikan dampak yang negatif pula terhadap perilaku anak yang menonton acara televisi tersebut.

1.2. Perumusan Masalah

Dari berbagai persoalan di atas, rumusan masalah yang dapat digunakan adalah:

1.  Apa dampak negatif  acara televisi terhadap anak?

2.  Apa pengaruh perkembangan moral terhadap perilaku anak?

3.  Usaha-usaha apa saja yang dilakukan orang tua dalam mengatasi dampak negatif dari televisi?

1.3. Tujuan

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk:

  1. Mengetahui dampak-dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh televisi.
  2. Mengetahui pengaruh perkembangan moral terhadap perilaku anak.
  3. Mengetahui usaha-usaha yang harus dilakukan orang tua dari acara televisi.

1.4.  Manfaat

Makalah ini bermanfaat bagi setiap orang agar berhati-hati terhadap acara-acara yang disiarkan ditelevisi dan bisa mengantisipasi dampak-dampak yang bisa ditimbulkan dari acara-acara televisi, serta bagi orang tua lebih selektif dalam memilih acara-acara televisi, yang mana yang cocok ditonton dan mana yang tidak untuk perkembangan anaknya. Serta lebih menekankan pada fungsi televisi sebagai sarana informatif edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman dapat berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga media massa televisi tidak membunuh karakter anak bangsa.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Onong (1969 50), Komunikasi massa adalah penyebaran pesan dengan menggunakan media yang ditujukan kepada massa yang abstrak, yakni sejumlah orang yang tidak tampak oelh si penyampaian pesan. Pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi dan film, tidak tampak oelh komunikator. Dengan demikian, bahwa komunikasi massa atau komunikasi melalui media massa sifatnya “satu arah” (one way traffic). Pesan disebarkan oelh komunikator, tidak diketahui apakah pesan itu diterima, dimengerti, atau dilakukan oleh komunikan

Fungsi komunikasi massa adalah menyiarkan informasi (to inform), mendidik (to educate) dan menghibur (to entertain). Fungsi utama dari televisi adalah menghibur. Televisi yang disajikan pada segi-segi informasi dan pendidikan, hanyalah sebagai pelengkap saja dalam rangka memenuhi kebutuhan alamiah manusia.

Menurut Ruedi Hofmann (1999;54-58), “Lima fungsi televisi lainnya antara lain sebagai Pengawasan situasi masyarakat dan dunia, menghubungkan satu dengan yang lain, menyalurkan kebudayaan, hiburan, dan pengerahan masyarakat untuk bertindak dalam keadaan darurat”. Dalam Teori Kegunaan dan Keuntungan bahwa pemirsa televisi ternyata lebih aktif daripada yang umumnya disangka. Televisi secara langsung dapat mengerahkan masyarakat dengan tujuan tertentu. Sebaliknya, televisi itu dimanfaatkan oleh pemirsa.

Sejak itu televisi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Jika pada tahun 1964 itu di Amerika Serikat terdapat beberapa stasiun saja, pada saat ini diseluruh Amerika Serikat terdapat tidak kurang dari 700 stasiun televisi. Televisi yang dalam menyiarkan pesannya itu bersifat audio visual. Kelebihan televisi dari media massa lainnya ialah kemampuan menyajikan berbagai kebutuhan manusia, baik hiburan, informasi maupun pendidikan dengan sangat memuaskan.

Dalam penelitian yang dilakukan selama di Indonesia, pengaruh televisi tidak begitu mengkhawatirkan, terutama terhadap anak-anak. Pada tahun 1975 penelitian terhadap anak-anak sekolah dasar di Bandung, hasilnya antara lain menunjukkan bahwa, berdasarkan angka rapor, naik 23,5%, tetap 63,4% dan turun 13,1%.

Tiga karakteristik televisi adalah: Pertama, pesan media ini dapat disampaikan kepada pemirsanya tanpa memerlukan bimbingan atau petunjuk. Kedua, pesan itu sampai tanpa memerlukan pemikiran. Ketiga, televisi tidak memberikan pemisahan bagi para pemirsanya, artinya siapa saja dapat menyaksikan siaran. Ketiga karakteristik televisi ini akan berakibat baik bila pesan yang disampaikan adalah pesan-pesan yang baik dan bermoral. Sebaliknya akan menjadi bahaya besar ketika televisi menyirkan program-program yang bobrok dan amoral, seperti kekerasan dan kriminalitas. Para pemilik media ini demi menarik pemirsa sebanyak mungkin, berlomba-lomba menayangkan kekerasan dan amoralitas yang lebih banyak di layar televisi. Anak-anak yang masih suci dan tanpa dosa menjadi pijak yang paling cepat terpengaruh oleh tayangan televisi dan mereka menganggap bahwa apa yang disiarkan televisi sebagai sebuah kebenaran.

BAB II

DAMPAK-DAMPAK NEGATIF TELEVISI

Belum lagi memasuki budaya membaca, Indonesia sudah dipaksa dan beralih ke budaya lisan dan budaya visua.[1]. Hal ini dapat dilihat dari dominasi televisi di Indonesia dan rendahnya minat membaca masyarakat. Saat ini kebanyakan masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu luang mereka untuk menonton acara televisi. Acara  yang ditawarkan stasiun-stasiun di Indonesia hampir tidak ada yang berkualitas. Acara berita dipenuhi dengan berita-berita kriminalitas. Acara hiburan didominasi oleh sinetron-sinetron yang sama sekali tidak berbobot. Belum ditambah lagi dengan acara infotaintment dan acara-acara lainnya. Dan itu ditawarkan oleh hampir semua stasiun televisi yang ada. Sedangkan acara iptek, pendidikan, dan acara lain yang memberikan informasi yang bermanfaat sedikit sekali.

Menurut Effendy (1986: 122), “Pengaruh televisi tidak lepas dari pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan pada umumnya. Bahwa televisi menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, sudah banyak mengetahui dan merasakannya, baik pengaruh positif ataupun negatifnya. Acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan persepsi, dan perasaan para penonton. Sehingga mengakibatkan penonton terharu, terpesona, atau latah. Sebab salah satu pengaruh psikologis televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan kisah atau peristiwa yang disajikan televisi. Setiap orang akan senang jika menonton tayangan yang disukainya di televisi”.

Pengaruh media terhadap anak semakin bersar, teknologi semakin canggih dan intensitasnya semakin tinggi. Perkembangan industri digital yang sangat cepat itu menjadi tantangan berat bagi dunia pendididkan dan orang tua dalam menyiapkan anak didik untuk dapat mengahadapi “banjir informasi” yang dibawa oleh media. Padahal orang tua mempunyai waktu yang cukup untuk memperhatikan, mendampinya dan mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV daripada melakukan kegiatan lainnya.

Dampak negatif dari acara televisi lebih besar daripada dampak positif pada perkembangan anak. Dari televisi, anak-anak dapat menyaksikan semua tayangan termasuk yang belum layak mereka tonton, mulai dari kekerasan  dan kehidupan seks. Dampak-dampak negatif dalam acara televisi antara lain:

  • berpengaruh terhadap perkembangan otak
  • menurunnnya atau hilangnya minat membaca dan motivasi anak sehingga anak tidak mempunyai semangat belajar
  • perubahan perilaku pada karekter dan mental penontonnya
  • menjadikan anak menjadi konsumtif karena tayangan iklan yang menawarkan berbagai macam produk
  • memikat dan membuat ketagihan sehingga anak menjadi malas belajar
  • mengurangi kreatifitas, kurang bermain dan bersosialisasi menjadi manusia individualais dan sendiri
  • meningkatnya agresifitas dan kriminalitas
  • terlalu sering nonton televisi dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola fikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, dan perkembangan kognitifnya

Siaran-siaran televisi telah meracuni otak anak-anak dengan berbagai macam tayangan yang belum sepantasnya menjadi tontonan mereka. Anak-anak belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas. Mereka hanya tahu bahwa televisi itu bagus, mereka merasa senang dan terhibur serta merasa penasaran untuk terus mengikuti acara demi acara berikutnya. Media televisi mempunyai daya tiru yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dampak negatif ini menjadi perhatian orang tua untuk membatasi waktu menonton televisi, mengawasi serta menyeleksi tayangan yang pantas ditonton oleh anak-anak.

BAB III

PENGARUH PERKEMBANGAN MORAL TERHADAP PERILAKU ANAK

Moral berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan, nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral itu seperti:

  1. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain.
  2. Larangan mencuri, berzina, membunuh, minum minuman keras dan berjudi.

Seseorang dikatakan bermoral jika tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosial.

Perkembangan moral merupakan segala aktivitas kehidupan yang menggambarkan ciri-ciri khas seseorang atau sekelompok oarng yang bertindak baik atau buruk dan juga menyinggung hukum atau adat kebiasaan yang mengatur perilaku. (John W. Santrock, hal. 439).

Perkembangan moral dapat melalui beberapa cara, yaitu:

  1. Pendidikan langsung

Melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya. Disamping itu yang paling penting adalah keteladanan orang tua, guru, orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral.

  1. Identifikasi

Mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti ortu, guru, kyai, artis dan orang dewasa lainnya).

  1. Proses coba-coba (Trial and Error)

Mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Dimana tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orangtuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orangtua sangatlah penting, terutama waktu anak masih kecil. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral tersebut sebagai berikut:

  1. Konsisten dalam mendidik anak

Suatu tingkah laku anak yang dilarang orangtua pada suatu waktu, harus juga dilarang jika dilakukan kembali pada waktu lain.

  1. Sikap orangtua dalam keluarga

Secara tidak langsung anak akan melakukan proses peniruan (imitasi) pada sikap orangtua sehingga sikap orangtua akan mempengaruhi perkembangan moral. Dimana sikap orangtua yang keras (otoriter) cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki orangtua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan, musyawarah (dialogis) dan konsisten.

  1. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut

Orangtua yang menciptakan iklim religius (agamis) dengan cara membimbing anak tentang nilai-nilai agamis kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.

  1. Sikap kosisten orangtua dalam menerapkan norma

Sebaiknya jika orangtua menanamkan perilaku jujur dan sopan kepada anak, maka ortu juga harus berperilaku jujur dan sopan. Jadi sikap orangtua konsisten dengan apa yang diajarkan pada anak.

Dalam membahas proses perkembangan moral ini, Lawrence Kohlberg (Ronald Duska dan Mariellen Whelan, dlm Dwija Atmaka, 1984; Abin Syamsuddin M., 1999) mengklasifikasikan dalam 3 tingkat sebagai berikut:

  1. Pra Konvensional

Pada tahap ini anak mengenal baik-buruk, benar-salah suatu perbuatan dari sudut konsekuansi atau dampak, hadiah atau hukuman secara fisik, atau enak tidaknya akibat perbuatan yang diterima.

    1. Tahap orientasi hukum dan kepatuhan.

Anak menilai baik-buruk, benar-salah dari sudut dampak yang diterimanya, dari otoritas, baik ortu atau orang dewasa lain. Disini anak mematuhi aturan orangtua agar terhindar dari hukuman.

    1. Tahap orientasi relativits-instrumental.

Perbuatan yang baik atau benar adalah yang berfungsi sebagi instrumen atau alat untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan diri. Dalam hal ini hubungan dengan orang lain dipandang sebagai hubungan orang di pasar. Melakukan sesuatu untuk orang lain, bukan karena rasa terima kasih atau sebagai curahan kasih sayang, tetapi bersifat pamrih. ”Jika kau memberiku, maka aku akan memberimu”.

  1. Konvensional

Pada tingkat ini anak memandang perbuatan itu baik atau benar, atau berharga bagi dirinya apabila dapat memenuhi harapan atau keluarga, kelompok, atau bangsa. Disini berkembang sikap konformitas atau penyesuaian diri terhadap keinginan kelompok atau aturan sosial masyarakat.

    1. Tahap orientasi kesepakatan antar pribadi (interpersonal), atu orientasi anak manis (good boy-good girl). Anak memandang perbuatan baik atau berharga apabila dapat menyenangkan, membantu, disetujui atau diterima orang lain.
    2. Tahap orientasi hukum dan ketertiban.

Perilaku yang baik adalah melaksanakan atau menunaikan tugas atau kewajiban sendiri, menghormati otoritas, dan memelihara ketertiban sosial.

  1. Pasca konvensional

Pada tingkat ini ada usaha individu untuk mengartikan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dapat diterapkan atau dilaksanakan terlepas dari otoritas kelompok, pendukung, atau orang yang memegang atau menganut prinsip-prinsip moral tersebut. Juga terlepas apakah individu yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak.

    1. Tahap orientasi kontrol sosial legalitas.

Perbuatan atau tindakan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak-hak individu yang umum dari segi aturan atau patokan yang telah diuji secara kritis, serta disepakati oleh seluruh masyarakat. Dengan demikian perbuatan yang baik itu adalah yang sesuai dengan berundang-undang yang berlaku.

    1. Tahap orientasi prinsip etika universal.

Kebenaran ditentukan oleh kata hati, sesuai dengan prinsip-prinsip etika yang logis, universalitas dan konsisten. Prinsip-prinsip etika universalitas ini bersifat abstrak, misalnya keadilan dan kesamaan Hak Asasi Manusia.

BAB IV

PERANAN ORANG TUA DALAM MENGATASI DAMPAK NEGATIF TELEVISI BAGI ANAK-ANAK

Pendidikan keluarga sebagai dasar pembentukan kepribadian anak. Peranan ayah dan ibu sangat menentukan bagi faktor perkembangan kepribadian anak. Mereka yang bertanggung jawab seluruh keluarga. Merekalah yang menentukan kondisi perkembangan anak, kemana keluarga itu akan dibawa, warna apa yang diberikan kepada keluarga. Anak-anak sebelum dapat bertanggung jawab sendiri, masih sangat menggantungkan orang tuanya.[2]

Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting, karakter dan kepribadian anak dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Setiap orang tua mempunyai tanggung jawab untuk selalu mengawasi anaknya dan memperhatikan perkembangannnya. Oleh sebab itu hal-hal sekecil apapun harus bisa diantisipasi oleh setiap orang tua mengenai dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan. Sebenarnya, banyak dampak yang diakibatkan oleh tontonan televisi. Beberapa hal yang dilakukan orang tua adalah:

1.   Memilih acara yang sesuai dengan usia anak.

Jangan biarkan anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak.

2.   Mendampingi anak menonton TV.

tujuannya adalah agar acara televisi yang mereka tonton selalu terkontrol dan orang tua bisa memperhatikan acara yang layak atau yang tidak untuk ditonton. Sehingga anak selalu dalam pengawasan orang tua.

3.  Manfaatkan waktu yang sedikit tersebut sekaligus sebagai sarana belajar anak. Duduklah bersama anak dan diskusikan isi tayangan pilihannya. Siapkan kegiatan alternatif pengganti agar anak tidak lagi merengek dan kembali menonton televisi.

4. Mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi serta positif dengan orang lain.

Sekali-kali refreshing untuk menghilangkan kejenuhan akibat seringnya nonton televisi dengan acara yang bisa meracuni pikiran anak. Mengajak  anak mengenal lingkungan sekitar. Dengan itu anak bisa belajar dari lingkungan dan bersosialisasi dengan orang lain.

5. Memperbanyak membaca buku dan meletakkan buku ditempat yang mudah dijangkau anak-anak.

Kegiatan ini sangat positif bagi anak-anak, karena dengan membaca buku anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan yang positif yang sangat bermanfaat untuk perkembangannya. Anak menjadi cerdas dengan membaca buku daripada menonton acara televisi yang tidak layak ditonton.  Hal ini merupakan alternatif lain yang membuat anak lupa dengan seringnya menonton televisi.

  1. Memperbanyak mendengarkan radio, memutar kaset-kaset atau mendengarkan musik sebagai pengganti menonton televisi.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena dengan mendengarkan televisi, anak akan terlatih kemampuan mendengar. Jika dibandingkan dengan menonton televisi hanya merangsang anak untuk mengikuti alur cerita tanpa menganalisis lebih lanjut yang dilihat dan didengar.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa televisi merupakan salah satu media massa elektronik yang sangat digemari anak-anak. Hal tersebut bisa membawa dampak negatif yaitu berpengaruh terhadap perkembangan otak, menurun atau hilangnya minat membaca, memberikan perubahan perilaku dan mental anak, meningkatkan kriminalitas, membuat ketagihan sehingga anak malas belajar, dan lain-lain. Dampak negatif dari acara televisi lebih banyak daripada dampak positifnya terhadap perkembangan anak. Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orangtuanya. Peranan orang tua dalam mengatasi dampak tersebut sangatlah penting yaitu dalam mengawasi dan memeperhatikan perkembangannya.

5.2 Saran

Setiap orangtua harus bisa mengajarkan moral sejak dini, mengontrol tontonan anaknya dengan cara mengawasi dan bisa memilih tontonan anak-anak, dewasa dam bimbingan orangtua, sehingga dapat melakukan proteksi terhadap dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh acara televisi tersebut. Disamping titu orangtua harus bisa menjadi kontrol dagi pihak penyiar televisi untuk memberikan saran ataupun kritikan tentang bahaya dampak negatif bagi pemirsanya. Peran pemerintah dan industri penyiaran televisi agar mendesain ulang program siaran yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia dan mempertimbangkan dampak dari acara tersebut sehingga tidak berpengaruh buruk pada anak-anak.  Selain itu, adanya pengaturan acara televisi agar fungsi dari televisi sebagai sarana informatif, edukatif, rekreatif sampai pada penontonnya.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy Onong Uchjana.1986. Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Hanicahyono Cheppy. 1995. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKP Semarang Press.

Hofmann Ruedi. 1999. Dasar-Dasar Apresiasi Program Televisi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Mulyana Dedy. 2002. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Monks, F. J, dkk. 2004. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Santrock, John W. 2003. Adolescence edisi keenam. Jakarta: Erlangga.

Soelaeman Munandar. 1986. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: PT Eresco.

Sujanto Agus, Lubis Halem, Hadi Taufik. 1980. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Susanto Astrid S Phill. 1980. Komunikasi Massa 2. Jakarta: Binacipta.


[1] Hofmann Ruedi. 1999. Dasar-Dasar Apresiasi Program Televisi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

[2] Sujanto Agus, Lubis Halem, Hadi Taufik. 1980. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Bumi Aksara.



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: